Sejarah Yayasan Rumpun Anak Pesisir

Berawal dari rasa prihatin melihat banyaknya anak-anak putus sekolah dan pekerja anak di Kampung Nelayan Muara Angke, khususnya dari keluarga nelayan tradisional yang bermukim di bantaran Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara.

Pada 20 April 2003, berawal dari 20 orang anak nelayan tradisional yang kami ajak untuk belajar membaca dan berhitung di sebuah tempat bekas rebusan rajungan yang juga dipakai untuk kandang ayam salah satu warga di sana.

Dari kandang ayam inilah lahir kegiatan YRAP. Saat itu, kegiatannya hanya sekali dalam seminggu dan hanya fokus mendampingi anak-anak yang tidak sekolah dan menumbuhkan semangat belajar untuk anak-anak yang sudah sekolah. Beberapa bulan berjalan ternyata sangat banyak anak-anak yang berminat ikut belajar.

Awalnya kegiatan ini ditentang oleh beberapa keluarga nelayan karena mereka telah menginginkan anaknya bekerja daripada sekolah.

Setahun berjalan, tepatnya April 2004, semakin banyak anak-anak yang berminat untuk ikut bergabung belajar bersama. Karena kandang ayam sudah tidak bisa menampung para peserta, maka selanjutnya atas kesepakatan dengan beberapa tokoh masyarakat Kampung Nelayan kegiatan belajar dipindahkan ke salah satu musholla yang ada di lingkungan sekitar.

Belajar di musholla berlangsung beberapa minggu saja, karena pesertanya semakin banyak sehingga kami khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti ambruknya musholla, karena bangunan musholla yang kami tumpangi untuk kegiatan belajar berupa bangunan panggung yang terbuat dari bambu, triplek dan kayu-kayu bekas.

Alhamdulillah, setahun kemudian atas bantuan dermawan berdirilah sebuah bangunan semi permanen untuk tempat belajar anak-anak. Mempunyai kelas baru anak-anak semakin semangat untuk belajar dan kegiatannya semakin berkembang. Mulai dibuka kelas tambahan seperti kelas untuk anak-anak belajar mengaji dan pagi harinya dibuka kelas untuk anak-anak PAUD.

Tak terasa saat ini sudah masuk di tahun 2021. Berawal dari 20 anak nelayan belajar baca, tulis dan berhitung karena saat itu banyak anak-anak yang buta huruf dikarenakan mereka tidak sekolah, mereka harus membantu orang tua ke laut, jadi pemulung dan sebagian buruh pengupas kerang untuk membantu kehidupan keluarga.

Dilakukan sistem pengaderan di komunitas nelayan untuk guru relawan agar kegiatan ini terus berkembang. Dengan bimbingan dari kakak-kakak pendamping yang berasal dari anak-anak muda warga setempat, dari hari ke hari terlihat timbul kesadaran dari orang tua akan pentingnya pendidikan dan anak-anak semakin semangat untuk belajar, sehingga jumlah murid semakin hari semakin bertambah. Anak-anak yang kami dampingi mulai dari usia 4 tahun sempai 18 tahun.

"Memfasilitasi Anak Untuk Mendapatkan Hak-Hak Mereka Atas Pendidikan Dan Tumbuh Kembang Sesuai Dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak."

VISI dan MISI

LEGAL

STRUKTUR

KANTOR LAYANAN

PENGHARGAAN